Rabu, 24 Desember 2014

Perkembangan Teori Evolusi

1.      Carolus Linnaeus (1707 - 1778)  

 Membuat sebuah ketentuan cara mencari keteraturan posisi antar makhluk hidup dengan mencari persamaan sifat, dan mengelompokkan yang mirip ke dalam satu kelompok. Pengelompokan dilakukan secara berjenjang (diistilahkan dengan takson), mulai dari jenjang yang paling rendah (takson spesies) sampai jenjang yang paling tinggi (takson kingdom). Jenjang ditentukan dari pengelompokan dengan kemiripan sifat-sifat khusus, menempati takson terendah, sampai pada jenjang untuk pengelompokan makhluk hidup dengan kategori sifat-sifat umum pada takson yang paling tinggi. Linnaeus juga membuat suatu cara penamaan jenis makhluk hidup dengan sistem Binomial nomenklatur. Dengan sumbangan ilmunya ini Linnaeus disebut sebagai pendiri Taksonomi, suatu ilmu yang membahas tentang penamaan dan pengelompokan makhluk hidup yang sangat beraneka ragam.
  

2.  Georges Cuvier (1769 - 1832)

            Ahli anatomi, tetapi sangat perhatian terhadap paleontologi (ilmu mengenai fosil). Cuvier mendukung teori Katastropi (catastrophism) yang menyatakan bahwa makhluk hidup setiap strata tidak ada hubungan kekerabatan karena setiap strata terbentuk akibat terjadinya bencana alam, seperti gempa, banjir, atau kemarau yang panjang. Jika strata lenyap oleh bencana, muncul strata baru lengkap dengan makhluk hidup baru, yang berpindah dari daerah lain. Dari temuan fosil di lembah Paris, Cuvier menyimpulkan bahwa batuan yang membentuk bumi ini tersusun berupa lapisan-lapisan (strata). Setiap strata dihuni oleh berbagai makhluk hidup yang unik, berbeda strukturnya dengan makhluk penghuni strata lainnya. Cuvier yakin bahwa makhluk modern di lapisan bumi paling atas sangat berbeda dengan makhluk di strata tua di lapisan bawah.

3.      James Hutton (1726 - 1797)

            Mengemukakan teori gradualisme, yang menyebutkan bahwa bentuk bumi dan lapisan-lapisannya  merupakan hasil perubahan yang berlangsung secara bertahap, terus-menerus, dan lambat (dalam waktu lama). 
4
.    Charles Lyell (1797 - 1875)   

 Mengemukakan teori Uniformitarianisme (keseragaman). Menurut Lyell, proses perubahan lapisan batuan dan bentuk permukaan bumi dari zaman ke zaman selalu sama atau tidak berubah. Charles Darwin, terinspirasi oleh teori Hutton dan Lyell dengan membuat sebuah pemikiran bahwa perubahan bumi secara lambat menunjukkan bumi sudah tua. Kemudian proses yang lambat, tetapi terus-menerus dalam waktu lama pasti menghasilkan perubahan yang cukup besar.
5. 
    Jean Baptiste Lamarck (1744 - 1829)

            Melihat adanya kecenderungan makhluk sederhana berubah menjadi makhluk yang lebih kompleks dengan prinsip adanya proses perubahan menuju kesempurnaan. Perubahan menjadi sempurna ini menurut Lamarck karena harus beradaptasi pada lingkungannya. Proses adaptasi ini dijelaskan Lamarck melalui dua hal. Pertama, adanya proses use (menggunakan) dan disuse (tidak menggunakan) dari bagian-bagian tubuh organisme, bergantung pada kebutuhannya. Contoh yang diberikan oleh Lamarck, yaitu otot bisep (otot lengan atas) yang digunakan terus-menerus, dan otot leher jerapah yang digunakan untuk menggapai dedaunan pada pohon-pohon tinggi. Menurut Lamarck, organ tubuh yang digunakan secara luas untuk menghadapi lingkungan akan berkembang lebih besar, sedangkan bagian tubuh yang kurang digunakan akan mengalami penyusutan. Kedua, Lamarck berkeyakinan adanya pewarisan sifat-sifat yang diperoleh. Keadaan otot bisep yang semakin besar akibat penggunaan terus-menerus akan diwariskan kepada keturunannya. Dengan kata lain, keturunan akan lahir dengan sifat otot bisep besar dengan sendirinya. Demikian pula, leher panjang jerapah akan terwaris dengan sendirinya kepada keturunannya. Padahal perubahan organ tubuh tersebut hasil modifikasi, dan tidak ada bukti bahwa sifat-sifat yang diperoleh dapat diwariskan. Suatu kehormatan bagi Lamarck, adanya pengakuan bahwa memang adaptasi terhadap lingkungan merupakan produk evolusi. a. Pada awalnya seluruh jerapah berleher pendek, sementara daun-daunan makanannya di pohon harus dijangkau karena letaknya yang tinggi. b. Karena sering menjangkau daun, leher jerapah semakin panjang sehingga jerapah generasi berikutnya semakin tinggi. c. Penyesuaian dan pewarisan hasil adaptasi ini berlanjut sehingga jerapah masa kini berleher panjang.

6.   Charles Darwin (1809 - 1882)
 Menjelaskan bahwa evolusi menghasilkan keanekaragaman hayati. Makhluk hidup mengalami evolusi melalui mekanisme seleksi alam. Organisme yang kuatlah yang akan melestarikan jenisnya. Darwin, mengemukakan pula adanya kemampuan adaptasi organisme agar mampu melewati seleksi alam. Darwin menggambarkan fenomena ketiga hal ini melalui contoh yang terkenal, yaitu gambar perkembangan leher jerapah. Contoh ini menjadi komparatif terhadap contoh perkembangan leher jerapah dari Lamarck. a. Populasi jerapah, panjang lehernya berbeda-beda, ada yang panjang ada yang pendek. b. Terjadi seleksi alam dalam hal mendapatkan makanan. Jerapah berleher pendek mati. c. Seleksi alam berlanjut sehingga menghasilkan generasi jerapah seperti sekarang. Menurut Darwin, seluruh makhluk hidup berkerabat melalui garis keturunan dari organisme yang hidup pada zaman purbakala. Keturunan yang berpencar ke berbagai macam habitat di muka bumi akan mengembangkan kemampuannya beradaptasi sampai setiap jenis sesuai dengan habitatnya. Dalam proses adaptasi inilah sebenarnya makhluk hidup sedang melewati fase seleksi alamiah. Karena adaptasi ke berbagai ragam habitat inilah sejarah makhluk hidup dapat digambarkan seperti sebuah pohon yang berangkat dari sebuah titik, menjalar menjadi batang, cabang, ranting, sampai ke ujung ranting, seperti pendapat Whitaker yang ditunjukkan pada Gambar 4.4. Pada tiap awal percabangan terdapat titik-titik nenek moyang bagi organisme yang berada di cabang-cabangnya. Sungguh analog dengan taksonomi dari Carolus Linnaeus.

7.    Alfred Russel Wallace (1923 - 1913)

 Mengembangkan teori yang serupa dengan teori Darwin. Dasar teori wallace adalah penelitian Biologi perbandingan di Brasilia dan Hindia Belanda (sekarang Indonesia), dan Malaya. Buku penelitiannya berjudul “On the tendency of varieties to depart indefinitely from the original type”. Teorinya sama dengan yang dikembangkan Darwin.


  8.   August Weissman

Menumbangkan teori Lamarck. Weismann memotong ekor tikus beberapa generasi. Menurut teori Lamarck, hal tersebut akan menyebabkan timbulnya jenis tikus yang tidak berekor. Namun, hasil percobaan Weismann menunjukkan bahwa sampai generasi terakhir ekor tikus tetap sama panjangnya.

 9.  Erasmus Darwin (1731 - 1802)

Erasmus Darwin adalah kakek dari Charles Robert Darwin, seorang tokoh evolusi berkebangsaan Inggris. Teorinya adalah bahwa evolusi terjadi karena bagian fungsional terhadap stimulasi adalah diwariskan. Ia menyusun buku yang berjudul Zoonamia yang menentang teori evolusi dari Lamarck
.
10.   Count de Buffon (1707 - 1788)
            Buffon berpendapat bahwa variasi-variasi yang terjadi karena pengaruh alam sekitar diwariskan sehingga terjadi penimbunan variasi.
 
11.   Empedoclas (495 - 435 SM)
            Empedoclas adalah seorang filosof Yunani. Ia mengemukakan teori bahwa kehidupan berasal dari lumpur hitam yang mendapat sinar dari matahari dan berubah menjadi makhluk hidup. Evolusi terjadi dengan dimulainya makhluk hidup yang sederhana kemudian berkembang menjadi sempurna dan akhirnya menjadi beraneka ragam seperti sekarang ini
.    
12.   Aristoteles (384-322 SM)

 Aristoteles adalah seorang filosof yang berasal dari Yunani, yang mencetuskan teori evolusi. Ia mengatakan bahwa evolusi yang terjadi berdasarkan metafisika alam, maksudnya metafisika alam dapat mengubah organisme dan habitatnya dari bentuk sederhana ke bentuk yang lebih kompleks
.  
13.   Anaximander (500 SM)
 Anaximander juga merupakan seorang filosof yang berasal dari Yunani. Ia berpendapat bahwa manusia berawal dari makhluk akuatik mirip ikan dan mengalami proses evolusi
.
14.   Plato Pandangan idealis
Plato memiliki efek mendalam pada biologi. Baginya, struktur dan bentuk organisme dapat dipahami dari fungsi mereka yang pada gilirannya dirancang untuk mencapai kebaikan tertinggi dan harmoni yang dikenakan oleh pencipta eksternal.

TEORI ABIOGENESIS

Tokoh teori Abiogenesis adalah Aristoteles (384-322 SM). Dia adalah seorang filosof dan tokoh ilmu pengetahuan Yunani Kuno. Teori Abiogenesis inimenyatakan bahwa makhluk hidup yang pertama kali menghuni bumi ini berasaldari benda mati.

Sebenarnya Aristoteles mengetahui bahwa telur-telur ikan apabila menetas akanmenjadi ikan yang sifatnya sama seperti induknya. Telur-telur tersebutmerupakan hasil perkawinan dari induk-induk ikan. Walau demikian, Aristotelesberkeyakinan bahwa ada ikan yang berasal dari Lumpur

Bagaimana cara terbentuknya makhluk tersebut ? Menurut penganut pahamabiogenesis, makhluk hidup tersebut terjadi begitu saja atau secara spontan.Oleh sebab itu, paham atau teori abiogenesis ini disebut juga paham generationspontaneae.

Jadi, kalau pengertian abiogenesis dan generation spontanea kita gabungkan,maka pendapat paham tersebut adalah makhluk hidup yang pertama kali di bumitersebut dari benda mati / tak hidup yang terjadinya secara spontan, misalnya :

a..Ikan dan katak berasal dari Lumpur.

b. Cacing berasal dari tanah, dan

c. Belatung berasal dari daging yang membusuk



Paham  abiogenesis bertahan cukup lama, yaitu semenjak zaman Yunani Kuno (Ratusan Tahun Sebelum Masehi) hingga pertengahan abad ke-17.

Pada pertengahan abad ke-17,Antonie Van Leeuwenhoek menemukan mikroskopsederhana yang dapat digunakan untuk mengamati benda-benda aneh yang amatkecil yang terdapat pada setetes air rendaman jerami. Oleh para pendukungpaham abiogenesis, hasil pengamatan Antonie Van Leeuwenhoek ini seolah-olahmemperkuat pendapat mereka

TEORI BIOGENESIS

1.         Louis Pasteur

 Teori ini muncul pada abad ke-19 yang dikemukakan oleh Louis Pasteur, Lazzari Spallanzani, dan Fransisco Redi. Redi dan Lazzaro membuktikan bahwa teori sebelumnya melalui  percobaan menggunakan stoples berisi daging (pengamatan terhadap munculnya belatung pada daging), sedangkan Louis Pasteur menyempurnakan teori itu dengan melakukan percobaan menggunakan labu pipa leher angsa yang berisis kaldu (pengamatan terhadap tumbuhnya kuman pada kaldu)

Teori ini memiliki 3 semboyan :

  1. Omne vivum ex ovo = semua makhluk hidup berasal dari telur
  2. Omne ovum ex vivo = semua telur berasal dari makhluk hidup
  3. Omne vivum ex vivo = semua makhluk hidup berasal dari makhluk hidup




2. Francesco Redi
         
Redi  merupakan orang pertama yang melakukan eksperimen untuk membantah teori abiogenesis. Dia melakukan percobaan dengan menggunakan bahan daging  segar yang ditempatkan dalam labu dan diberi perlakuan tertentu.
•           Labu I    :  diisi daging segar dan dibiarkan terbuka
•           Labu II   :  diisi daging segar dan ditutup dengan kain kasa
•           Labu  III  :  diisi daging segar dan ditutup rapat
Ketiga labu diletakkan di tempat yang sama selama beberapa hari. Hasilnya adalah sebagai berikut:
•           Labu I    :  dagingnya busuk, banyak terdapat belatung
•           Labu II   :  dagingnya busuk, terdapat sedikit belatung
•           Labu III  :  dagingnya tidak busuk, tidak terdapat belatung
Menurut  Redi belatung yang terdapat pada daging berasal dari telur lalat. Labu ke III  tidak terdapat belatung karena tertutup rapat sehingga lalat tidak bisa masuk. Sayangnya,  meskipun tertutup rapat ternyata pada labu tersebut bisa muncul belatung. Ini disebabkan karena Redi tidak melakukan sterilisasi daging pada disain percobaannya

3.Lazzaro Spallanzani

Pada  percobaan  Spallanzani, digunakan air rebusan dari daging atau (air kaldu). Air kaldu tersebut dimasukkan  ke dalam  dua labu, kemudian   dipanaskan. Setelah  dipanaskan , labu I dibiarkan terbuka. Sementara itu, setelah air kaldu  dalam  labu II dipanaskan, labu  kemudian ditutup rapat menggunakan gabus.

Setelah  beberapa hari, air kaldu dalam labu I menjadi keruh dan berbau busuk yang disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme. Mikroorganisme  tersebut berasal dari udara bebas yang masuk ke labu I karena tidak ditutup.

Pada  labu II, ternyata tidak ada perbedaan dari sebelumnya. Air  kaldu tetap jernih. Jernihnya air kaldu ini disebabkan tidak adanya udara yang masuk ke dalam labu

Percobaan  Spallanzani menunjukkan bahwa pada labu terbuka terdapat kehidupan yang berasal dari mikroorganisme yang ada di udara. Pada  labu  yang ditutup tidak terdapat kehidupan. Berdasarkan hal tersebut,  Spallanzani  berkesimpulan bahwa kehidupan bukan berasal dari air kaldu, tetapi berasal dari makhluk hidup lainnya.  Akan  tetapi, para penganut  abiogenesis menyanggah  penelitian ini dan mengatakan bahwa mikroorganisme tidak tumbuh karena tidak terdapat udara. Udara  dibutuhkan  untuk menyokong   kehidupan.



TEORI EVOLUSI KIMIA

Ternyata  gugurnya teori abiogenesis oleh teori biogenesis tidak membuat ilmuwan berhenti menyelidiki tentang asal-usul kehidupan. Sekarang, timbul
pertanyaan, jika makhluk hidup berasal dari makhluk hidup, dari manakah asal mula makhluk hidup yang pertama? Untuk menjawab itu,  muncullah teori evolusi kimia. Ilmuwan yang menyatakan teori tersebut adalah  Harold Urey. Urey menyatakan bahwa pada periode tertentu, atmosfer bumi mengan-dung molekul metana (CH 4), amonia (NH 4), air (H2O), dan karbon dioksida(CO2).

Karena  pengaruh dari energi petir dan sinar kosmis, zat-zat tadi bereaksi. Hasil reaksi tersebut menghasilkan  suatu zat hidup yang diduga virus. Zat  hidup tersebut berkembang selama jutaan tahun membentuk makhluk hidup. Teori yang dikemukakannya tersebut, kemudian dikenal dengan  teori Urey .

Untuk membuktikan teori ini,  Stanley Miller melakukan sebuah percobaan.  Peralatan yang dirancang Miller, yakni ruang bunga api diisi dengan campuran gas meniru atmosfer purba, sementara botol kaca kecil diisi dengan air murni seperti sup purba. Miller membuat kilat buatan dengan bunga api listrik di antara dua elektroda dalam atmosfer buatan tersebut. Ia juga memanaskan air laut tiruannya. Percobaan  ini berlangsung selama seminggu dan dapat menghasilkan beragam senyawa organik.

Di alam nyata, reaksi kimia ini akan berjalan selama jutaan tahun sehingga dapat membentuk hasil yang lebih kompleks. Pada titik tertentu dari proses yang panjang ini, senyawa kimia dapat terbentuk dengan sendirinya. Jika pada proses membentuk diri ini terkadang terdapat kesalahan, senyawa kimia ini dapat menyesuaikan diri dan berevolusi melalui  proses seleksi kimiawi. Jadi, kehidupan tidak terbentuk secara tiba-tiba  melainkan timbul secara bertahap dari senyawa tidak hidup.

TEORI EVOLUSI BIOLOGI

Alexander Ivanovich Oparin  mengemukakan bahwa evolusi zat-zat kimia terjadi sebelum di bumi terdapat kehidupan. Seperti sebelumnya, zat anorganik berupa air, metana, karbon dioksida, dan amonia terkandung dalam atmosfer bumi. Zat anorganik tersebut membentuk zat-zat organik akibat adanya radiasi dari energi listrik yang berasal dari petir.

Suhu di bumi terus menurun. Ketika sampai pada titik kondensasi, terjadi hujan yang mengikis batuan di bumi yang banyak mengandung zat-zat anorganik. Zat-zat anorganik tersebut terbawa ke lautan yang panas. Di lautan ini terbentuk sup purba atau  sup primordial. Sup purba terus berkembang selama berjuta-juta tahun. Di dalam sup purba, terkandung zat
anorganik, RNA, dan DNA. RNA yang dibutuhkan dalam proses sintesis protein dapat terbentuk dari DNA. Akibatnya, terbentuklah sel pertama. Sel pertama tersebut mampu membelah diri sehingga jumlahnya semakin banyak. Sejak saat itulah evolusi biologi berlangsung.

A. Terbentuknya  Makhluk  Hidup  Prokariotik

Sejarah kesuksesan makhluk hidup prokariotik dimulai sedikitnya pada 3,5 miliar tahun yang lalu. Prokariotik merupakan bentuk kehidupan pertama dan paling sederhana. Mereka hidup dan berevolusi di bumi selama 2 miliar
tahun. Prokariotik dianggap  paling  primitif, karena selnya  hanya memiliki membran sel. DNA, RNA hasil transkripsi, dan molekul-molekul  organik berada dalam sitoplasma tanpa dibatasi membran.

Prokariotik pertama kemungkinan merupakan kemoautrotof  yang  menyerap molekul organik bebas dan ATP di sup purba melalui sintesis abiotik. Seleksi  alam menyebabkan prokariotik yang dapat mengubah ADP menjadi ATP melalui glikolisis bertambah. Akhirnya, prokariotik yang dapat melakukan fermentasi berkembang dan hal tersebut menjadi cara hidup organisme di bumi karena belum tersedianya O2. Beberapa  Archaebacteria dan beberapa bakteri obligat anerob yang sekarang hidup melalui fermentasi, mirip dengan prokariotik terdahulu.

B. Terbentuknya  Organisme  Fotoautotrof

Ketika  kecepatan konsumsi bahan organik oleh fermentasi prokariotik melebihi kecepatan sintesis untuk menggantikan molekul organik, berkembanglah  prokariotik yang dapat membuat molekul organiknya sendiri. Pada  prokariotik awal, pigmen yang dapat menyerap cahaya digunakan untuk menyerap kelebihan energi cahaya (terutama dari sinar ultraviolet) yang membahayakan bagi sel yang hidup di permukaan.

Selanjutnya , pigmen ini mampu melakukan transfer elektron untuk sintesis ATP. Prokariotik  ini mirip dengan Archaebacteria yang disebut bakteri halofik. Pigmen yang menangkap cahaya dikenal dengan bakteriorhodopsin
yang dibuat pada membran plasma. Prokariotik lain memiliki pigmen yang dapat menggunakan cahaya untuk transfer elektron dari hidrogen sulfida (H2S) menjadi NADP+ dan dapat memfiksasi CO2. Akhirnya, Eubacteria memiliki cara untuk menggunakan H2O sebagai sumber elekton dan hidrogen. Bakteri ini adalah Cyanobacteria pertama yang mampu membuat molekul organik dari air dan CO2.

Cyanobacteria berkembang dan mengubah bumi dengan melepaskan O2 sebagai efek fotosintesis. Cyanobacteria berkembang antara 2,5 miliar hingga 3,4 miliar tahun yang lalu. Mereka hidup bersama prokariotik lain membuat koloni. Fosil koloni ini disebut stromatolit yang banyak ditemukan di perairan air tawar dan air laut

C. Bangkitnya  Organisme  Eukariotik

Eukariotik berkembang sekitar 1,2 miliar tahun yang lalu. Hal yang sangat membedakan eukariotik dengan prokariotik adalah adanya organel-organel yang memiliki membran. Bagaimana sel eukariotik yang kompleks dapat terbentuk dari prokariotik yang sederhana?

Sistem membran organel-organel pada eukariotik dapat terbentuk dari invaginasi yang terspesialisasi. Pada eukariotik terdahulu, invaginasi (pelekukan ke dalam) dapat terjadi sehingga membentuk membran inti dan retikulum endoplasma.


image

Proses lain yang disebut endosimbiosis menjelaskan pembentukan mitokondria, kloroplas, dan beberapa organel eukariotik lain. Teori ini di-kemukakan oleh  Lynn Margulis .  Endo berarti di dalam dan  simbiosis  berarti hidup bersama. Endosimbiosis terjadi ketika sel simbion hidup secara permanen di dalam sel lain (sel inang) dan interaksi ini menguntungkan keduanya .

Berdasarkan  teori ini, eukariotik berkembang setelah sel fotosintesis muncul dan oksigen melimpah di atmosfer. Kloroplas  dan mitokondria tampaknya merupakan evolusi sel prokariotik yang melakukan endosimbiosis dengan sel prokariotik besar. Nenek  moyang mitokondria kemungkinan besar adalah sel prokariotik heterotrof yang mampu menggunakan oksigen dan menghasilkan energi. Adapun  nenek moyang kloroplas kemungkinan adalah Cyanobacteria.

Sel eukariotik hasil endosimbiosis ini sekarang kita kenal dengan nama Protista. Makhluk  hidup eukariotik satu sel ini sangat beranekaragam. Beberapa  Protista dapat berfotosintesis, sebagian lagi bersifat heterotrof dan dapat aktif bergerak. Sebagian mirip jamur dan mendapatkan makanan dengan menyerap secara absorpsi.

Makhluk  hidup eukariotik banyak sel, seperti rumput laut, tumbuhan dan hewan kemungkinan berasal dari Protista yang berkoloni. Koloni Protista tersebut mengalami spesialisasi dan saling bergantung satu sama lain, namun semakin efisien dalam melakukan aktivitasnya. Hal  ini terus terjadi hingga  kehidupan  memasuki daratan dan muncullah  makhluk hidup banyak sel  yang lebih kompleks.

Bukti-bukti  evolusi ini semakin diperkuat  oleh sistematika  molekuler berdasarkan perbandingan  DNA organisme. Perbandingan gen RNA mengidentifikasikan bahwa alpha proteobacteria adalah kerabat dekat mitokondria dan Cyanobacteria adalah kerabat dekat kloroplas. Sistematika molekuler memberikan cara baru mengungkap evolusi dan kekerabatan makhluk hidup.

C. Yang Menentang

1.           Teori Aristoteles
Yang   menyatakan  system klasifikasi makhluk hidup tidak memberikan tempat bagi bentuk – bentuk kehidupan  baru yang muncul pada masa depan dan spesies memiliki bentuk yang tetap serta tidak mengalami perubahan. Akan tetapi menurut kami setiap spesies pasti akan mengalami perubahan walaupun sedikit.

2.         Teori Erasmus Darwin
Yang menyatakan  evolusi kehidupan dari setetes kecil di lautan purba hingga membentuk ikan, amphibi, reptile, dan manusia. Kami tidak setuju  karena BELUM.

3.         Jean Baptiste de Monent de Lamarck
            Berpendapat bahwa leher jerapah yang panjang merupakan akibat penarikan atau peregangan selama bertahun- tahun untuk mencapai daun – daun  pada pucuk pohon sebagai makanannya  sehingga leher itu tumbuh memanjang, namun kami tidak setuju dengan teori tersebut karena selama bertahun – tahun jerapah tetap membutuhkan makanan, jadi sebelum leher jerapah itu panjang, jerapah tersebut akan mati. BELUM

4.         Teori Charles Lyell

Berpendapat bahwa fosil – fosil yang ada dilapisan bumi memiliki hubungan yang saling berkaitan. Ia juga menunjukan fosil – fosil itu berubah secara bertahap dari tingkat yang paling tua dan bumi mengalami perubahan – perubahan progesif yang lebih lambat. BELUM

21 komentar:

  1. Balasan
    1. suru kawan kawan yg lain komen blog gue hehehe

      Hapus
  2. ok.. gan mantab lanjutkan.. jangan lupa main mampir ke blog saya
    http://m-luqmanulhakim.blogspot.com

    BalasHapus
  3. comment juga punya ku, skalian follow ya "virlyacitradewi.blogspot.com

    BalasHapus
  4. good job...bermanfaat lanjutkan!

    BalasHapus