1.
Carolus
Linnaeus (1707 - 1778)
Membuat sebuah ketentuan cara mencari
keteraturan posisi antar makhluk hidup dengan mencari persamaan sifat, dan
mengelompokkan yang mirip ke dalam satu kelompok. Pengelompokan dilakukan
secara berjenjang (diistilahkan dengan takson), mulai dari jenjang yang paling
rendah (takson spesies) sampai jenjang yang paling tinggi (takson kingdom).
Jenjang ditentukan dari pengelompokan dengan kemiripan sifat-sifat khusus,
menempati takson terendah, sampai pada jenjang untuk pengelompokan makhluk
hidup dengan kategori sifat-sifat umum pada takson yang paling tinggi. Linnaeus
juga membuat suatu cara penamaan jenis makhluk hidup dengan sistem Binomial
nomenklatur. Dengan sumbangan ilmunya ini Linnaeus disebut sebagai pendiri
Taksonomi, suatu ilmu yang membahas tentang penamaan dan pengelompokan makhluk
hidup yang sangat beraneka ragam.
2. Georges Cuvier (1769 - 1832)
Ahli anatomi, tetapi sangat perhatian terhadap
paleontologi (ilmu mengenai fosil). Cuvier mendukung teori Katastropi
(catastrophism) yang menyatakan bahwa makhluk hidup setiap strata tidak ada
hubungan kekerabatan karena setiap strata terbentuk akibat terjadinya bencana
alam, seperti gempa, banjir, atau kemarau yang panjang. Jika strata lenyap oleh
bencana, muncul strata baru lengkap dengan makhluk hidup baru, yang berpindah
dari daerah lain. Dari temuan fosil di lembah Paris, Cuvier menyimpulkan bahwa
batuan yang membentuk bumi ini tersusun berupa lapisan-lapisan (strata). Setiap
strata dihuni oleh berbagai makhluk hidup yang unik, berbeda strukturnya dengan
makhluk penghuni strata lainnya. Cuvier yakin bahwa makhluk modern di lapisan
bumi paling atas sangat berbeda dengan makhluk di strata tua di lapisan bawah.
3.
James
Hutton (1726 - 1797)
Mengemukakan
teori gradualisme, yang menyebutkan bahwa bentuk bumi dan
lapisan-lapisannya merupakan hasil
perubahan yang berlangsung secara bertahap, terus-menerus, dan lambat (dalam
waktu lama).
4
. Charles Lyell (1797 - 1875)
Mengemukakan teori Uniformitarianisme
(keseragaman). Menurut Lyell, proses perubahan lapisan batuan dan bentuk
permukaan bumi dari zaman ke zaman selalu sama atau tidak berubah. Charles
Darwin, terinspirasi oleh teori Hutton dan Lyell dengan membuat sebuah
pemikiran bahwa perubahan bumi secara lambat menunjukkan bumi sudah tua.
Kemudian proses yang lambat, tetapi terus-menerus dalam waktu lama pasti
menghasilkan perubahan yang cukup besar.
5.
Jean Baptiste Lamarck (1744 - 1829)
Melihat
adanya kecenderungan makhluk sederhana berubah menjadi makhluk yang lebih
kompleks dengan prinsip adanya proses perubahan menuju kesempurnaan. Perubahan
menjadi sempurna ini menurut Lamarck karena harus beradaptasi pada
lingkungannya. Proses adaptasi ini dijelaskan Lamarck melalui dua hal. Pertama,
adanya proses use (menggunakan) dan disuse (tidak menggunakan) dari
bagian-bagian tubuh organisme, bergantung pada kebutuhannya. Contoh yang
diberikan oleh Lamarck, yaitu otot bisep (otot lengan atas) yang digunakan
terus-menerus, dan otot leher jerapah yang digunakan untuk menggapai dedaunan
pada pohon-pohon tinggi. Menurut Lamarck, organ tubuh yang digunakan secara
luas untuk menghadapi lingkungan akan berkembang lebih besar, sedangkan bagian
tubuh yang kurang digunakan akan mengalami penyusutan. Kedua, Lamarck
berkeyakinan adanya pewarisan sifat-sifat yang diperoleh. Keadaan otot bisep
yang semakin besar akibat penggunaan terus-menerus akan diwariskan kepada
keturunannya. Dengan kata lain, keturunan akan lahir dengan sifat otot bisep
besar dengan sendirinya. Demikian pula, leher panjang jerapah akan terwaris
dengan sendirinya kepada keturunannya. Padahal perubahan organ tubuh tersebut
hasil modifikasi, dan tidak ada bukti bahwa sifat-sifat yang diperoleh dapat
diwariskan. Suatu kehormatan bagi Lamarck, adanya pengakuan bahwa memang
adaptasi terhadap lingkungan merupakan produk evolusi. a. Pada awalnya seluruh
jerapah berleher pendek, sementara daun-daunan makanannya di pohon harus
dijangkau karena letaknya yang tinggi. b. Karena sering menjangkau daun, leher
jerapah semakin panjang sehingga jerapah generasi berikutnya semakin tinggi. c.
Penyesuaian dan pewarisan hasil adaptasi ini berlanjut sehingga jerapah masa
kini berleher panjang.
6. Charles Darwin (1809 - 1882)
Menjelaskan bahwa evolusi menghasilkan
keanekaragaman hayati. Makhluk hidup mengalami evolusi melalui mekanisme
seleksi alam. Organisme yang kuatlah yang akan melestarikan jenisnya. Darwin,
mengemukakan pula adanya kemampuan adaptasi organisme agar mampu melewati
seleksi alam. Darwin menggambarkan fenomena ketiga hal ini melalui contoh yang
terkenal, yaitu gambar perkembangan leher jerapah. Contoh ini menjadi
komparatif terhadap contoh perkembangan leher jerapah dari Lamarck. a. Populasi
jerapah, panjang lehernya berbeda-beda, ada yang panjang ada yang pendek. b.
Terjadi seleksi alam dalam hal mendapatkan makanan. Jerapah berleher pendek
mati. c. Seleksi alam berlanjut sehingga menghasilkan generasi jerapah seperti
sekarang. Menurut Darwin, seluruh makhluk hidup berkerabat melalui garis
keturunan dari organisme yang hidup pada zaman purbakala. Keturunan yang
berpencar ke berbagai macam habitat di muka bumi akan mengembangkan
kemampuannya beradaptasi sampai setiap jenis sesuai dengan habitatnya. Dalam
proses adaptasi inilah sebenarnya makhluk hidup sedang melewati fase seleksi
alamiah. Karena adaptasi ke berbagai ragam habitat inilah sejarah makhluk hidup
dapat digambarkan seperti sebuah pohon yang berangkat dari sebuah titik,
menjalar menjadi batang, cabang, ranting, sampai ke ujung ranting, seperti
pendapat Whitaker yang ditunjukkan pada Gambar 4.4. Pada tiap awal percabangan
terdapat titik-titik nenek moyang bagi organisme yang berada di
cabang-cabangnya. Sungguh analog dengan taksonomi dari Carolus Linnaeus.
7. Alfred Russel Wallace (1923 - 1913)
Mengembangkan teori yang serupa dengan teori
Darwin. Dasar teori wallace adalah penelitian Biologi perbandingan di Brasilia
dan Hindia Belanda (sekarang Indonesia), dan Malaya. Buku penelitiannya
berjudul “On the tendency of varieties to depart indefinitely from the original
type”. Teorinya sama dengan yang dikembangkan Darwin.
8.
August Weissman
Menumbangkan
teori Lamarck. Weismann memotong ekor tikus beberapa generasi. Menurut teori
Lamarck, hal tersebut akan menyebabkan timbulnya jenis tikus yang tidak
berekor. Namun, hasil percobaan Weismann menunjukkan bahwa sampai generasi
terakhir ekor tikus tetap sama panjangnya.
9. Erasmus Darwin (1731 - 1802)
Erasmus
Darwin adalah kakek dari Charles Robert Darwin, seorang tokoh evolusi
berkebangsaan Inggris. Teorinya adalah bahwa evolusi terjadi karena bagian
fungsional terhadap stimulasi adalah diwariskan. Ia menyusun buku yang berjudul
Zoonamia yang menentang teori evolusi dari Lamarck
.
10. Count de Buffon (1707 - 1788)
Buffon
berpendapat bahwa variasi-variasi yang terjadi karena pengaruh alam sekitar
diwariskan sehingga terjadi penimbunan variasi.
11. Empedoclas (495 - 435 SM)
Empedoclas
adalah seorang filosof Yunani. Ia mengemukakan teori bahwa kehidupan berasal
dari lumpur hitam yang mendapat sinar dari matahari dan berubah menjadi makhluk
hidup. Evolusi terjadi dengan dimulainya makhluk hidup yang sederhana kemudian
berkembang menjadi sempurna dan akhirnya menjadi beraneka ragam seperti
sekarang ini
.
12. Aristoteles (384-322 SM)
Aristoteles adalah seorang filosof yang
berasal dari Yunani, yang mencetuskan teori evolusi. Ia mengatakan bahwa
evolusi yang terjadi berdasarkan metafisika alam, maksudnya metafisika alam
dapat mengubah organisme dan habitatnya dari bentuk sederhana ke bentuk yang
lebih kompleks
.
13. Anaximander (500 SM)
Anaximander juga merupakan seorang filosof
yang berasal dari Yunani. Ia berpendapat bahwa manusia berawal dari makhluk
akuatik mirip ikan dan mengalami proses evolusi
.
14. Plato Pandangan idealis
Plato
memiliki efek mendalam pada biologi. Baginya, struktur dan bentuk organisme
dapat dipahami dari fungsi mereka yang pada gilirannya dirancang untuk mencapai
kebaikan tertinggi dan harmoni yang dikenakan oleh pencipta eksternal.
TEORI
ABIOGENESIS
Tokoh teori Abiogenesis
adalah Aristoteles (384-322 SM). Dia adalah seorang filosof dan tokoh ilmu
pengetahuan Yunani Kuno. Teori Abiogenesis inimenyatakan bahwa makhluk hidup
yang pertama kali menghuni bumi ini berasaldari benda mati.
Sebenarnya Aristoteles
mengetahui bahwa telur-telur ikan apabila menetas akanmenjadi ikan yang
sifatnya sama seperti induknya. Telur-telur tersebutmerupakan hasil perkawinan
dari induk-induk ikan. Walau demikian, Aristotelesberkeyakinan bahwa ada ikan
yang berasal dari Lumpur
Bagaimana cara
terbentuknya makhluk tersebut ? Menurut penganut pahamabiogenesis, makhluk
hidup tersebut terjadi begitu saja atau secara spontan.Oleh sebab itu, paham
atau teori abiogenesis ini disebut juga paham generationspontaneae.
Jadi, kalau pengertian
abiogenesis dan generation spontanea kita gabungkan,maka pendapat paham
tersebut adalah makhluk hidup yang pertama kali di bumitersebut dari benda mati
/ tak hidup yang terjadinya secara spontan, misalnya :
a..Ikan dan katak
berasal dari Lumpur.
b. Cacing berasal dari
tanah, dan
c. Belatung berasal
dari daging yang membusuk
Paham abiogenesis bertahan cukup lama, yaitu
semenjak zaman Yunani Kuno (Ratusan Tahun Sebelum Masehi) hingga pertengahan
abad ke-17.
Pada pertengahan abad
ke-17,Antonie Van Leeuwenhoek menemukan mikroskopsederhana yang dapat digunakan
untuk mengamati benda-benda aneh yang amatkecil yang terdapat pada setetes air
rendaman jerami. Oleh para pendukungpaham abiogenesis, hasil pengamatan Antonie
Van Leeuwenhoek ini seolah-olahmemperkuat pendapat mereka
TEORI
BIOGENESIS
1. Louis Pasteur
Teori ini muncul pada abad ke-19 yang
dikemukakan oleh Louis Pasteur, Lazzari Spallanzani, dan Fransisco Redi. Redi
dan Lazzaro membuktikan bahwa teori sebelumnya melalui percobaan menggunakan stoples berisi daging
(pengamatan terhadap munculnya belatung pada daging), sedangkan Louis Pasteur
menyempurnakan teori itu dengan melakukan percobaan menggunakan labu pipa leher
angsa yang berisis kaldu (pengamatan terhadap tumbuhnya kuman pada kaldu)
Teori ini memiliki 3
semboyan :
1. Omne vivum ex ovo = semua makhluk hidup
berasal dari telur
2. Omne ovum ex vivo = semua telur berasal
dari makhluk hidup
3. Omne vivum ex vivo = semua makhluk hidup
berasal dari makhluk hidup
2. Francesco Redi
Redi merupakan orang pertama yang melakukan
eksperimen untuk membantah teori abiogenesis. Dia melakukan percobaan dengan
menggunakan bahan daging segar yang
ditempatkan dalam labu dan diberi perlakuan tertentu.
• Labu I :
diisi daging segar dan dibiarkan terbuka
• Labu II :
diisi daging segar dan ditutup dengan kain kasa
• Labu
III : diisi daging segar dan ditutup rapat
Ketiga labu diletakkan
di tempat yang sama selama beberapa hari. Hasilnya adalah sebagai berikut:
• Labu I :
dagingnya busuk, banyak terdapat belatung
• Labu II :
dagingnya busuk, terdapat sedikit belatung
• Labu III :
dagingnya tidak busuk, tidak terdapat belatung
Menurut Redi belatung yang terdapat pada daging
berasal dari telur lalat. Labu ke III
tidak terdapat belatung karena tertutup rapat sehingga lalat tidak bisa
masuk. Sayangnya, meskipun tertutup
rapat ternyata pada labu tersebut bisa muncul belatung. Ini disebabkan karena
Redi tidak melakukan sterilisasi daging pada disain percobaannya
3.Lazzaro Spallanzani
Pada percobaan
Spallanzani, digunakan air rebusan dari daging atau (air kaldu). Air
kaldu tersebut dimasukkan ke dalam dua labu, kemudian dipanaskan. Setelah dipanaskan , labu I dibiarkan terbuka.
Sementara itu, setelah air kaldu
dalam labu II dipanaskan,
labu kemudian ditutup rapat menggunakan
gabus.
Setelah beberapa hari, air kaldu dalam labu I menjadi
keruh dan berbau busuk yang disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme.
Mikroorganisme tersebut berasal dari
udara bebas yang masuk ke labu I karena tidak ditutup.
Pada labu II, ternyata tidak ada perbedaan dari
sebelumnya. Air kaldu tetap jernih.
Jernihnya air kaldu ini disebabkan tidak adanya udara yang masuk ke dalam labu
Percobaan Spallanzani menunjukkan bahwa pada labu
terbuka terdapat kehidupan yang berasal dari mikroorganisme yang ada di udara.
Pada labu yang ditutup tidak terdapat kehidupan.
Berdasarkan hal tersebut, Spallanzani berkesimpulan bahwa kehidupan bukan berasal
dari air kaldu, tetapi berasal dari makhluk hidup lainnya. Akan
tetapi, para penganut abiogenesis
menyanggah penelitian ini dan mengatakan
bahwa mikroorganisme tidak tumbuh karena tidak terdapat udara. Udara dibutuhkan
untuk menyokong kehidupan.
TEORI
EVOLUSI KIMIA
Ternyata gugurnya teori abiogenesis oleh teori biogenesis
tidak membuat ilmuwan berhenti menyelidiki tentang asal-usul kehidupan.
Sekarang, timbul
pertanyaan, jika
makhluk hidup berasal dari makhluk hidup, dari manakah asal mula makhluk hidup
yang pertama? Untuk menjawab itu,
muncullah teori evolusi kimia. Ilmuwan yang menyatakan teori tersebut
adalah Harold Urey. Urey menyatakan
bahwa pada periode tertentu, atmosfer bumi mengan-dung molekul metana (CH 4),
amonia (NH 4), air (H2O), dan karbon dioksida(CO2).
Karena pengaruh dari energi petir dan sinar kosmis,
zat-zat tadi bereaksi. Hasil reaksi tersebut menghasilkan suatu zat hidup yang diduga virus. Zat hidup tersebut berkembang selama jutaan tahun
membentuk makhluk hidup. Teori yang dikemukakannya tersebut, kemudian dikenal
dengan teori Urey .
Untuk membuktikan teori
ini, Stanley Miller melakukan sebuah
percobaan. Peralatan yang dirancang
Miller, yakni ruang bunga api diisi dengan campuran gas meniru atmosfer purba, sementara
botol kaca kecil diisi dengan air murni seperti sup purba. Miller membuat kilat
buatan dengan bunga api listrik di antara dua elektroda dalam atmosfer buatan
tersebut. Ia juga memanaskan air laut tiruannya. Percobaan ini berlangsung selama seminggu dan dapat
menghasilkan beragam senyawa organik.
Di alam nyata, reaksi
kimia ini akan berjalan selama jutaan tahun sehingga dapat membentuk hasil yang
lebih kompleks. Pada titik tertentu dari proses yang panjang ini, senyawa kimia
dapat terbentuk dengan sendirinya. Jika pada proses membentuk diri ini
terkadang terdapat kesalahan, senyawa kimia ini dapat menyesuaikan diri dan
berevolusi melalui proses seleksi
kimiawi. Jadi, kehidupan tidak terbentuk secara tiba-tiba melainkan timbul secara bertahap dari senyawa
tidak hidup.
TEORI
EVOLUSI BIOLOGI
Alexander Ivanovich Oparin mengemukakan bahwa evolusi zat-zat kimia
terjadi sebelum di bumi terdapat kehidupan. Seperti sebelumnya, zat anorganik
berupa air, metana, karbon dioksida, dan amonia terkandung dalam atmosfer bumi.
Zat anorganik tersebut membentuk zat-zat organik akibat adanya radiasi dari
energi listrik yang berasal dari petir.
Suhu di bumi terus menurun. Ketika sampai pada titik
kondensasi, terjadi hujan yang mengikis batuan di bumi yang banyak mengandung
zat-zat anorganik. Zat-zat anorganik tersebut terbawa ke lautan yang panas. Di
lautan ini terbentuk sup purba atau sup
primordial. Sup purba terus berkembang selama berjuta-juta tahun. Di dalam sup
purba, terkandung zat
anorganik, RNA, dan DNA. RNA yang dibutuhkan dalam
proses sintesis protein dapat terbentuk dari DNA. Akibatnya, terbentuklah sel
pertama. Sel pertama tersebut mampu membelah diri sehingga jumlahnya semakin
banyak. Sejak saat itulah evolusi biologi berlangsung.
A. Terbentuknya Makhluk Hidup Prokariotik
Sejarah kesuksesan makhluk hidup
prokariotik dimulai sedikitnya pada 3,5 miliar tahun yang lalu. Prokariotik
merupakan bentuk kehidupan pertama dan paling sederhana. Mereka hidup dan
berevolusi di bumi selama 2 miliar
tahun. Prokariotik dianggap paling primitif,
karena selnya hanya memiliki membran
sel. DNA, RNA hasil transkripsi, dan molekul-molekul organik berada dalam sitoplasma tanpa dibatasi
membran.
Prokariotik pertama kemungkinan merupakan kemoautrotof
yang menyerap molekul organik bebas dan ATP di sup
purba melalui sintesis abiotik. Seleksi alam menyebabkan prokariotik yang dapat
mengubah ADP menjadi ATP melalui glikolisis bertambah. Akhirnya, prokariotik
yang dapat melakukan fermentasi berkembang dan hal tersebut menjadi cara hidup
organisme di bumi karena belum tersedianya O2. Beberapa Archaebacteria dan beberapa bakteri obligat
anerob yang sekarang hidup melalui fermentasi, mirip dengan prokariotik
terdahulu.
B. Terbentuknya Organisme Fotoautotrof
Ketika kecepatan konsumsi bahan organik oleh
fermentasi prokariotik melebihi kecepatan sintesis untuk menggantikan molekul
organik, berkembanglah prokariotik yang
dapat membuat molekul organiknya sendiri. Pada prokariotik awal, pigmen yang dapat menyerap
cahaya digunakan untuk menyerap kelebihan energi cahaya (terutama dari sinar
ultraviolet) yang membahayakan bagi sel yang hidup di permukaan.
Selanjutnya , pigmen ini mampu melakukan transfer
elektron untuk sintesis ATP. Prokariotik ini mirip dengan Archaebacteria yang disebut bakteri
halofik. Pigmen yang menangkap cahaya dikenal dengan bakteriorhodopsin
yang dibuat pada membran plasma. Prokariotik lain
memiliki pigmen yang dapat menggunakan cahaya untuk transfer elektron dari
hidrogen sulfida (H2S) menjadi NADP+ dan dapat memfiksasi CO2. Akhirnya,
Eubacteria memiliki cara untuk menggunakan H2O sebagai sumber elekton dan
hidrogen. Bakteri ini adalah Cyanobacteria pertama yang mampu membuat molekul
organik dari air dan CO2.
Cyanobacteria berkembang dan
mengubah bumi dengan melepaskan O2 sebagai efek fotosintesis. Cyanobacteria
berkembang antara 2,5 miliar hingga 3,4 miliar tahun yang lalu. Mereka hidup
bersama prokariotik lain membuat koloni. Fosil koloni ini disebut stromatolit
yang banyak ditemukan di perairan air tawar dan air laut
C. Bangkitnya Organisme Eukariotik
Eukariotik berkembang sekitar 1,2 miliar tahun yang
lalu. Hal yang sangat membedakan eukariotik dengan prokariotik adalah adanya
organel-organel yang memiliki membran. Bagaimana sel eukariotik yang kompleks dapat
terbentuk dari prokariotik yang sederhana?
Sistem membran organel-organel pada
eukariotik dapat terbentuk dari invaginasi yang terspesialisasi. Pada
eukariotik terdahulu, invaginasi (pelekukan ke dalam) dapat terjadi sehingga
membentuk membran inti dan retikulum endoplasma.

Proses
lain yang disebut endosimbiosis menjelaskan pembentukan mitokondria, kloroplas,
dan beberapa organel eukariotik lain. Teori ini di-kemukakan oleh Lynn Margulis . Endo berarti di dalam dan simbiosis
berarti hidup bersama. Endosimbiosis terjadi ketika sel simbion hidup
secara permanen di dalam sel lain (sel inang) dan interaksi ini menguntungkan
keduanya .
Berdasarkan teori ini, eukariotik berkembang setelah sel
fotosintesis muncul dan oksigen melimpah di atmosfer. Kloroplas dan mitokondria tampaknya merupakan evolusi
sel prokariotik yang melakukan endosimbiosis dengan sel prokariotik besar.
Nenek moyang mitokondria kemungkinan
besar adalah sel prokariotik heterotrof yang mampu menggunakan oksigen dan
menghasilkan energi. Adapun nenek moyang
kloroplas kemungkinan adalah Cyanobacteria.
Sel
eukariotik hasil endosimbiosis ini sekarang kita kenal dengan nama Protista.
Makhluk hidup eukariotik satu sel ini
sangat beranekaragam. Beberapa Protista
dapat berfotosintesis, sebagian lagi bersifat heterotrof dan dapat aktif
bergerak. Sebagian mirip jamur dan mendapatkan makanan dengan menyerap secara
absorpsi.
Makhluk hidup eukariotik banyak sel, seperti rumput
laut, tumbuhan dan hewan kemungkinan berasal dari Protista yang berkoloni.
Koloni Protista tersebut mengalami spesialisasi dan saling bergantung satu sama
lain, namun semakin efisien dalam melakukan aktivitasnya. Hal ini terus terjadi hingga kehidupan
memasuki daratan dan muncullah
makhluk hidup banyak sel yang
lebih kompleks.
Bukti-bukti evolusi ini semakin diperkuat oleh sistematika molekuler berdasarkan perbandingan DNA organisme. Perbandingan gen RNA
mengidentifikasikan bahwa alpha proteobacteria adalah kerabat dekat mitokondria
dan Cyanobacteria adalah kerabat dekat kloroplas. Sistematika molekuler
memberikan cara baru mengungkap evolusi dan kekerabatan makhluk hidup.
C.
Yang Menentang
1.
Teori Aristoteles
Yang menyatakan
system klasifikasi makhluk hidup tidak memberikan tempat bagi bentuk –
bentuk kehidupan baru yang muncul pada
masa depan dan spesies memiliki bentuk yang tetap serta tidak mengalami
perubahan. Akan tetapi menurut kami setiap spesies pasti akan mengalami perubahan
walaupun sedikit.
2. Teori Erasmus Darwin
Yang
menyatakan evolusi kehidupan dari
setetes kecil di lautan purba hingga membentuk ikan, amphibi, reptile, dan
manusia. Kami tidak setuju karena BELUM.
3. Jean Baptiste de Monent de Lamarck
Berpendapat bahwa leher jerapah yang panjang merupakan
akibat penarikan atau peregangan selama bertahun- tahun untuk mencapai daun –
daun pada pucuk pohon sebagai
makanannya sehingga leher itu tumbuh
memanjang, namun kami tidak setuju dengan teori tersebut karena selama bertahun
– tahun jerapah tetap membutuhkan makanan, jadi sebelum leher jerapah itu
panjang, jerapah tersebut akan mati. BELUM
4. Teori Charles Lyell
Berpendapat bahwa fosil
– fosil yang ada dilapisan bumi memiliki hubungan yang saling berkaitan. Ia juga
menunjukan fosil – fosil itu berubah secara bertahap dari tingkat yang paling
tua dan bumi mengalami perubahan – perubahan progesif yang lebih lambat. BELUM